Search this site
Embedded Files
Generasi Literat
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Mari Bekenalan
    • Dampak
    • Karya
    • Kontak kami
  • Program
    • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
    • Literasi Kesehatan Mental
    • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
    • Literasi Digital
    • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
  • Cerita Manusia
  • Mitra
Generasi Literat
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Mari Bekenalan
    • Dampak
    • Karya
    • Kontak kami
  • Program
    • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
    • Literasi Kesehatan Mental
    • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
    • Literasi Digital
    • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
  • Cerita Manusia
  • Mitra
  • More
    • Beranda
    • Tentang Kami
      • Mari Bekenalan
      • Dampak
      • Karya
      • Kontak kami
    • Program
      • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
      • Literasi Kesehatan Mental
      • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
      • Literasi Digital
      • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
    • Cerita Manusia
    • Mitra

Cerita Kemanusiaan

Kok Dokter Bisa Depresi?

Seorang dokter muda di Nusa Tenggara Timur, Elisa Princila Utami Pakaenoni (Dokter Icha), memilih bunuh diri setelah diduga mengalami tekanan berat karena intimidasi secara berulang dari beberapa anggota DPRD.


Kabar ini bukan hanya memprihatinkan, tapi juga membuat hancur. Orang yang selama ini mengabdikan diri untuk memberi harapan hidup pada orang lain, nggak mampu menyembuhkan lukanya sendiri.


"Mungkin ada yang  bertanya: "Kok dokter bisa depresi? Bukannya mereka paham kesehatan?"


Pertanyaan itu terkesan sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan masalah yang lebih besar. Justru di situlah kadang kita luput. Kita lupa bahwa dokter adalah manusia.  


Kita masih percaya bahwa ada profesi-profesi tertentu yang kebal terhadap luka batin. 

Kita menganggap dokter harus kuat. 

Guru harus sabar. 

Aktivis harus tangguh. 

Pemimpin harus tahan banting. 

Ibu harus selalu ikhlas.

Laki-laki harus tidak boleh menangis.


Padahal, di balik semua identitas sosial itu, mereka tetap manusia. Mereka memiliki batas, memiliki rasa takut, kelelahan, kesepian, dan kebutuhan untuk ditemani ketika hidup terasa berat.


Apalagi Profesi dokter menghadapi tekanan yang luar biasa: Jam kerja yang panjang, berhadapan dengan berbagai jenis penyakit yang berisiko menular, takut melakukan kesalahan diagnose, dibebankan seolah-olah hidup dan mati pasien ada di tangannya, dan harus  selalu terlihat sehat juga kuat, meskipun mereka sendiri sedang terluka.



Bukan Soal Lemah Iman

Kasus dr. Icha, apa pun faktor-faktor kompleks yang melatarbelakanginya, mengingatkan kita pada satu hal yang sering lupa kita akui: gangguan kesehatan mental bisa dialami oleh siapa saja.


Nggak peduli gelar akademiknya, tingkat pendidikannya, profesinya. Karena pengetahuan tentang kesehatan mental nggak otomatis membuat seseorang kebal terhadap penderitaan mental.


Seorang dokter bisa memahami gejala depresi, tetapi tetap mengalami depresi. Seorang psikolog bisa memahami kecemasan, tetapi tetap mengalami kecemasan. Seorang motivator bisa mengajarkan ketangguhan, tetapi tetap memiliki hari-hari yang berlinang air mata.  


Memahami sesuatu nggak selalu berarti pasti bisa menghindarinya. Bukankah seorang ahli jantung pun masih bisa terkena penyakit jantung? Polisi  yang harusnya menangkap penjahat pun bisa dipenjara, kan?

Lalu, mengapa kita begitu sulit menerima bahwa seseorang yang paham kesehatan mental tetap bisa terluka secara mental?


Masalahnya, masyarakat kita masih terlalu sering memandang kesehatan mental melalui lensa moral. Ketika seseorang mengalami depresi, pertanyaan yang muncul bukan misalnya...


"Beban apa yang sedang ia pikul?" 

Melainkan, "Mungkin dia kurang bersyukur."


"Atau, "Imannya lemah. Kurang dekat dengan Tuhan."


Seolah-olah depresi adalah kegagalan spiritual. Seolah-olah penderitaan batin adalah bukti kelemahan karakter. Padahal, ilmu psikologi modern telah lama menjelaskan bahwa gangguan mental tidak lahir dari satu penyebab tunggal.



Gelas yang Kepenuhan

Psikolog Zubin dan Bonnie Spring (1977), mengembangkan model Diatesis-Stres yang menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan hasil interaksi antara kerentanan yang dimiliki seseorang dengan tekanan hidup yang terus-menerus dialaminya.


Kerentanan itu bisa berbentuk banyak hal: faktor biologis, pengalaman masa kecil, trauma, pola pengasuhan, atau bahkan karakter kepribadian tertentu. Namun, kerentanan saja nggak cukup untuk membuat seseorang mengalami gangguan mental. Yang menjadi pemicunya adalah akumulasi stres yang nggak kunjung menemukan solusi. 


Bayangkan sebuah gelas kosong yang terus diisi dengan tetesan-tetesan air seperti:  tekanan pekerjaan, bullying, kelelahan dan kurang istirahat, rasa kesepian, konflik keluarga, kekurangan uang, dan tuntutan sosial untuk terlihat sehat dan kuat. 


Di era yang berlari semakin cepat ini, kita seolah menuntut untuk terus menuangkan tetesan air ke gelas itu. Tapi kita jarang diajarkan tentang bagaimana cara mengosongkan pelan-pelan gelas itu.


Kita diajarkan bekerja keras, tetapi nggak diajarkan beristirahat tanpa rasa bersalah. Kita diajarkan membantu orang lain, tetapi nggak diajarkan meminta bantuan. 

Kita diajarkan menjadi kuat, tetapi nggak diajarkan bahwa menangis juga bagian dari kekuatan.


Ketika suatu hari gelas itu meluap, masyarakat sering keliru menyalahkan "tetesan terakhir". Padahal, bukan tetesan terakhir yang menghancurkan seseorang. Tapi ribuan tetesan sebelumnya yang nggak pernah mendapatkan ruang untuk mengalir keluar.


Sampai di sini, semoga kita paham bahwa mengatakan:  "Orang yang mengalami depresi adalah orang yang lemah" merupakan bentuk ketidakadilan yang sangat besar.


Mereka bukan lemah. Mereka hanya terlalu lama memikul beban tanpa ada tempat untuk meletakkannya. 

Mereka terlalu lama menjadi tempat bersandar bagi orang lain, tetapi nggak pernah memiliki bahu untuk bersandar. 

Mereka terlalu lama mendengar, tetapi nggak pernah didengar. 

Mereka terlalu lama menolong, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan pertolongan.


Sebagai manusia yang beragama, aku  meyakini bahwa spiritualitas dan rasa syukur adalah sumber kekuatan yang luar biasa bagi manusia. Banyak orang bertahan melewati masa-masa sulit karena iman dan doa. Namun, mengakui pentingnya iman bukan berarti menolak fakta bahwa manusia juga memiliki dimensi biologis, psikologis, dan sosial.


Orang yang rajin beribadah tetap bisa terkena diabetes. Orang yang saleh tetap bisa terkena kanker. Yang dekat dengan Tuhan tetap berpotensi mengalami depresi.

Bukan karena imannya gagal. Tetapi karena ia adalah manusia. Dan menjadi manusia berarti memiliki keterbatasan. Ini manusiawi!


Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara bertanya. Bukan lagi berpikir, "Kenapa dia lemah mentalnya?" Melainkan, "Sudah berapa lama dia menanggung semuanya sendirian?"


Bukan lagi, "kayaknya dia kurang bersyukur, deh!"

Melainkan, "Apa yang bisa kita lakukan agar gelasnya tidak terus penuh?"


Kasus dr. Icha mestinya menjadi alarm bagi kita semua. Bahwa di balik jas putih, ada manusia biasa. Di balik senyum profesional, ada kemungkinan luka yang nggak terlihat.


Di balik orang-orang yang selalu membantu, ada hati yang diam-diam berharap seseorang bertanya, "Kamu sendiri, apa kabar? Apa yang bisa aku bantu?"


Menurutku, penyelamatan yang bisa kita lakukan ke depan adalah membangun budaya yang membuat setiap orang merasa aman untuk berkata:

"Aku capek."

"Aku pengen istirahat”

"Aku pengen nangis beberapa jam."

"Aku butuh bantuan."


Ini untuk memastikan bahwa setiap manusia memiliki ruang, waktu, dan orang-orang yang membantunya "mengosongkan gelas" sebelum tetesan air itu meluap, dan membahayakan dirinya juga orang lain.



Kamis, 2 Juni 2026

Baca artikel lainnya di sini

Generasi Literat Indonesia


Jl. Kayu Putih Raya No. 30, Pondok Cabe udik, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, 15418



Tentang KamiProgramCerita ManusiaMitraKontak


Ikuti Kami
InstagramTikTokYouTube
Copyright © 2024 Generasi Literat. All rights reserved
Google Sites
Report abuse
Page details
Page updated
Google Sites
Report abuse