Search this site
Embedded Files
Generasi Literat
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Mari Bekenalan
    • Dampak
    • Karya
    • Kontak kami
  • Program
    • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
    • Literasi Kesehatan Mental
    • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
    • Literasi Digital
    • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
  • Cerita Manusia
  • Mitra
Generasi Literat
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Mari Bekenalan
    • Dampak
    • Karya
    • Kontak kami
  • Program
    • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
    • Literasi Kesehatan Mental
    • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
    • Literasi Digital
    • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
  • Cerita Manusia
  • Mitra
  • More
    • Beranda
    • Tentang Kami
      • Mari Bekenalan
      • Dampak
      • Karya
      • Kontak kami
    • Program
      • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
      • Literasi Kesehatan Mental
      • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
      • Literasi Digital
      • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
    • Cerita Manusia
    • Mitra

Cerita Kemanusiaan

Output Melesat, Pikiran Meredup: Efek Tersembunyi ChatGPT

Siang namun sunyi dan serius. Begitulah kondisi perpustakaan yang baru saja menjadi tempat favoritku. Orang-orang sibuk membaca dan mengetik. Tidak jauh dari tempatku, aku memperhatikan seseorang mengetik prompt ke ChatGPT. Sesekali ia tersenyum puas melihat jawaban yang muncul.


Pemandangan itu terasa akrab sekali dalam dua tahun terakhir. ChatGPT menjadi penolong bagi kita yang ingin menghasilkan sesuatu secara cepat dan instan. Aku pun juga sering mengoptimalkan ChatGPT dalam berbagai pekerjaan. 


Namun, melihat orang tersebut membuatku merenung. Seiring aku mengoptimalkan platform serba bisa itu, aku merasa ada sesuatu yang janggal, “Kok, ada yang aneh ya? Kayak ada yang kurang gitu.” Sesuatu tersebut mulai hilang dari diri kita

Proses Berpikir Digantikan oleh Output

Proses yang hilang itu adalah proses berpikir kita. Kalau dalam konteks menulis, proses menulis sebenarnya proses menata pikiran kita yang kacau. Saat kita menyerahkan tugas menulis kepada ChatGPT secara rutin, kita kehilangan dua hal: kemampuan menulis dan sebagian kemampuan berpikir kita.


Hal itu justru diungkapkan oleh Venture Capitalist dan esais, Paul Graham. Dia menulis di X pada tahun 2023 lalu, “This is going to have unfortunate consequences, just as switching to living in suburbia and driving everywhere did. When you lose the ability to write, you also lose some of your ability to think.”


Apa yang dikatakan oleh Paul Graham menjadi kenyataan ketika sekelompok peneliti dari MIT. Mereka melakukan penelitian tentang dampak penggunaan ChatGPT terhadap aktivitas otak kita. Ada 54 orang yang terlibat, dan mereka terbagi menjadi tiga kelompok: kelompok yang menggunakan mesin pencari, kelompok yang memanfaatkan ChatGPT, dan kelompok yang mengoptimalkan otak mereka.


Hasilnya cukup mengejutkan. Peneliti MIT menemukan kalau orang yang menggunakan ChatGPT untuk menulis, aktivitas otaknya lebih minim, terutama bagian yang bertugas untuk berpikir kritis. Ketika kelompok tersebut disuruh menggunakan pikirannya pada sesi keempat, mereka tampil lebih buruk dan memiliki keterlibatan yang hanya sedikit lebih baik. Namun, performanya jauh di bawah keterlibatan kelompok otak saja dalam sesi ketiga mereka.


Ada Harga yang Harus Kita Bayar

Dari studi MIT, kita bisa mengambil dua insight. 


Pertama, hari-hari ini, kita semakin fokus pada output, bukan proses. ChatGPT memang membuat penggunaan waktu makin efektif dan efisien. Tapi… kita lupa kalau menulis adalah proses yang panjang. Menulis adalah tentang membangun rutinitas dan mengembangkan gagasan yang sistematis dan otentik. 


Kedua, ChatGPT membuat proses instan menjadi candu. Aku pernah melihat iklan di media sosial yang bunyinya kurang lebih kayak gini, “AI ini bisa membantu kita selesai skripsi dalam waktu 1 minggu.” Entah itu hook atau realita, pola pikir seperti itu membuat kita terbiasa dengan hasil instan, bukan pada proses. Tidak ada lagi yang ingin melalui proses yang melelahkan. Padahal, ada sisi baiknya ketika kita mencintai proses. Stephen King saja menulis 1.000 kata dalam sehari.

Boleh Membantu, Tapi Jangan Sampai Mengambil Alih

ChatGPT adalah alat yang luar biasa. Ia bisa membuat hidup kita lebih mudah, lebih efisien, dan lebih produktif. Tetapi setiap kemudahan itu ada harga yang harus dibayar. Jika kita tidak hati-hati, kita mungkin benar-benar menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Itu berarti menyerahkan salah satu bagian terpenting dari diri kita sebagai manusia.


Hari ini, aku percaya satu hal: ChatGPT seharusnya menjadi pendukung, bukan pengganti. Kita tetap perlu bertanya, menganalisis, merangkai ide, dan merasakan kebingungan. Proses-proses itulah yang membuat manusia tumbuh. ChatGPT bisa menghasilkan jawaban, tetapi manusia lah yang memberi makna, ragam, dan konteks.


Mesin bisa berpikir cepat, tetapi hanya manusia yang bisa berpikir dalam.

Perenungan tersebut kuakhiri. Aku memutuskan untuk menggunakan ChatGPT dalam kapasitas yang sangat terbatas.

Baca artikel lainnya di sini

Generasi Literat Indonesia


Jl. Kayu Putih Raya No. 30, Pondok Cabe udik, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, 15418



Tentang KamiProgramCerita ManusiaMitraKontak


Ikuti Kami
InstagramTikTokYouTube
Copyright © 2024 Generasi Literat. All rights reserved
Google Sites
Report abuse
Page details
Page updated
Google Sites
Report abuse