Search this site
Embedded Files
Generasi Literat
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Mari Bekenalan
    • Dampak
    • Karya
    • Kontak kami
  • Program
    • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
    • Literasi Kesehatan Mental
    • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
    • Literasi Digital
    • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
  • Cerita Manusia
  • Mitra
Generasi Literat
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Mari Bekenalan
    • Dampak
    • Karya
    • Kontak kami
  • Program
    • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
    • Literasi Kesehatan Mental
    • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
    • Literasi Digital
    • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
  • Cerita Manusia
  • Mitra
  • More
    • Beranda
    • Tentang Kami
      • Mari Bekenalan
      • Dampak
      • Karya
      • Kontak kami
    • Program
      • Literasi Kebhinnekaan dan Perdamaian
      • Literasi Kesehatan Mental
      • Literasi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Kelompok Marginal
      • Literasi Digital
      • Gerakan Kembali Ke Buku (GKKB)
    • Cerita Manusia
    • Mitra

Cerita Kemanusiaan

Seni untuk Tidak Selalu Menyenangkan Orang Lain

Dulu, aku memang people pleaser, apalagi di SMA di mana aku harus bisa diterima oleh banyak orang karena waktu dulu aku OSIS. Suatu ketika, OSIS mengadakan event perlombaan olahraga. Aku, seperti biasa, ditempatkan di divisi perlengkapan. Saat event berjalan, teman-teman divisi lain meminta gunting, yang sebenarnya mereka bisa dicari sendiri. 


Aku ingin mengatakan “tidak”, tapi mengingat aku orang perlengkapan, dan nanti di rapat malah dibahas, aku memenuhinya. Setelah beberapa lama, akhirnya ketemu. Tapi, yang disayangkan adalah energiku habis. Dan ketika ada permintaan yang benar-benar penting, justru aku tidak dapat memenuhinya.


Saat itu aku belum tahu, kebiasaanku di divisi Perlengkapan bukan soal tanggung jawab, tapi soal kecanduan menyenangkan orang lain. Dari pengalaman itulah, aku sadar bahwa menjadi people pleaser tidak selalu baik, bahkan buruk untuk kesehatan mental.

Sulit Keluar

Masalahnya, kesadaran tidak otomatis membuatku berubah. Keluar dari lingkaran setan ini bukanlah hal yang mudah. Ketika aku ingin mengatakan “tidak”, seringkali beberapa pernyataan ini muncul:


“Yaudah gapapa deh. Sekali-kali.”

“Nanti kalau aku tolak, kita bertengkar nggak, ya?”

“Gue nggak mau dianggap egois?”


Kalimat-kalimat tersebut akhirnya menjadi semacam “aturan hukum” yang mengikatkan diriku pada suatu kewajiban yang disebut “menyenangkan orang lain”. Bak prajurit, aku melaksanakannya dengan patuh.


Pernah suatu masa, di masa kuliah, aku menjadi ghost writer tugas beberapa teman. Pada saat itu, kuotaku sudah penuh dan itu sudah batas kapasitasku. Namun, ada satu orang yang memohon kepadaku agar menambahkan dirinya. Apa yang aku putuskan? Aku mengiyakan permintaannya.


Bagiku, selalu menyenangkan orang lain fatal akibatnya terhadap kesehatan mental. Kita jadi nggak tahu batas personal yang sehat, bahkan mungkin kita tidak punya batas pribadi. Karena selalu sibuk membahagiakan orang lain, kita jadi lupa apa yang membuat diri kita bahagia. 


Selain itu, sikap ini dapat meretakkan hubungan yang sudah terjalin. Saat kita berkata ‘iya’ padahal hati menolak, yang rusak bukan hanya diri sendiri, tapi juga kepercayaan dalam relasi. Misalnya di kantor atau di organisasi, ada orang yang kita tidak sepakati pendapatnya. Tapi, demi mendapatkan kedamaian, kita justru menyepakati pendapat orang tersebut. Usaha kita mencerminkan ketidaktulusan karena berangkat dari niat menyenangkan orang lain. 

Tetapkan Batas dan Prioritas

Energi kita sangatlah langka dan harus memilih aktivitas yang memang berdampak. Kalau ada yang bisa ditunda, misalnya membalas chat yang tidak terlalu penting, tundalah. Kalau memang nggak bisa, jujurlah, tapi dengan elegan. Misalnya jawabnya “Aku coba cek kalender dulu, ya. Nanti aku kabari.” Kita memberi waktu bagi diri untuk berpikir.  


Boleh saja menyenangkan orang lain, tapi lakukanlah hanya sesekali di saat kita punya waktu luang dan energi berlebih. Kalau melakukannya tanpa mempertimbangkan kedua hal tersebut, lebih baik hindari karena hanya akan membuat kita lelah, bahkan burnout. 


Setidaknya, kalau kita ingin menyenangkan orang lain, pilihlah orang-orang yang memang peduli dengan kita, menghargai diri kita, dan menerima diri kita apa adanya. Bisa orang tua, sahabat, anak, adik, kakak, ataupun mentor. Tapi, jangan lupa, kalau sudah lelah, kita perlu mengkomunikasikannya secara asertif dan jujur. Daripada malah dipaksakan, jadinya malah retak hubungan.


Menjadi people pleaser memang tidak enak. Tapi, dalam satu titik, kita perlu menyenangkan orang lain. Yang perlu kita tetapkan adalah batasan. Mari kita buat batasan supaya diri kita tetap sehat, fisik maupun mental. Apa batasannya? Kalau aku adalah ketika hati tidak sreg dan ada prioritas lain yang lebih penting. 


Kalau Sobat Literat, batas apa yang sedang kamu pelajari untuk dijaga?


Baca artikel lainnya di sini

Generasi Literat Indonesia


Jl. Kayu Putih Raya No. 30, Pondok Cabe udik, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten, 15418



Tentang KamiProgramCerita ManusiaMitraKontak


Ikuti Kami
InstagramTikTokYouTube
Copyright © 2024 Generasi Literat. All rights reserved
Google Sites
Report abuse
Page details
Page updated
Google Sites
Report abuse