Pagi itu, Sabtu (25/4), suasana di Kuil Hoseiji-Nichiren Shoshu terasa berbeda. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta Selatan, sekitar 50 anak muda dari berbagai agama dan komunitas berkumpul dalam sebuah ruang yang tenang, menyatukan rasa ingin tahu, keberagaman, dan harapan akan kehidupan yang lebih damai.
Kegiatan Hang Out Kebhinnekaan adalah program rutin Generasi Literat sebagai ruang perjumpaan lintas iman yang hangat. Kali ini, merupakan Hang Out yang ke 30. Acara dibuka dengan doa menurut tradisi Buddha yang dipimpin oleh Biksu Shinken Basuki, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya—sebuah simbol bahwa keberagaman tetap berpijak pada satu tanah air.
Dalam sambutannya, Kepala Kuil, Biksu Ryosho Tozawa, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para peserta, banyak di antaranya baru pertama kali menginjakkan kaki di kuil Buddha. Ia menyebut perbedaan yang ditemui bukanlah jarak, melainkan jendela untuk belajar dan memperluas pemahaman.
Peserta dari berbagai latar belakang saling berinterkasi dalam permainan
Mila Muzakkar, founder dan Dikrektur Generasi Literat, dalam sambutannya juga mengajak peserta merenungkan kondisi dunia yang belakangan dipenuhi konflik dan kegaduhan, sekaligus mempertanyakan: bagaimana sebaiknya anak muda meresponsnya? Mila menyampaikan sekilas ajaran Budhisme Nichiren, yang menjelaskan bahwa kondisi dunia adalah cermin dari batin manusia. Perdamaian, karenanya, bukan sekadar wacana, tetapi dimulai dari perubahan dalam diri.
“Pencerahan tidak berhenti pada meditasi atau sembahyang, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehar-hari,” pesan Mila, mengajak peserta untuk memikirkan langkah konkret dalam menciptakan kehidupan yang lebih damai.
Proses diskusi bersama Biksu tentang ajaran Buddha aliran Mahayana
Memasuki sesi inti, peserta diajak memasuki ruang ibadah, untuk menyelami lebih dalam sejarah Buddhisme, khususnya aliran Mahayana dan Nichiren Shoshu. Penjelasan yang disampaikan oleh Biksu Ryosho, dengan penerjemahan oleh Biksu Shinken, membuka wawasan tentang perjalanan panjang ajaran Buddha dari India hingga ke Indonesia.
Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah penjelasan bahwa dalam ajaran Nichiren Shoshu, adalah umat tidak menyembah patung. Fokus utama justru pada dharma—hukum universal yang diyakini membimbing manusia mencapai tingkat kebuddhaan tertinggi. Perspektif ini menjadi pengalaman baru bagi banyak peserta yang sebelumnya memiliki gambaran berbeda tentang praktik Buddhisme.
Diskusi berlangsung hidup. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, mulai dari asal-usul ajaran Buddha di Lumbini, aturan makanan, hingga makna pencerahan dalam kehidupan sehari-hari. Jawaban yang disampaikan tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif, menekankan bahwa kehidupan batin manusia terus berubah, dan pencerahan adalah proses yang harus diupayakan berulang kali.
Namun, esensi kegiatan ini justru terasa kuat dalam sesi Lihat, Dengar, dan Rasakan (LDR). Di sinilah pengalaman personal para peserta menjadi cerita utama.
Bram, mahasiswa dari Paramadina, mengaku terkesan dengan estetika ruang ibadah dan suasana doa yang menyentuh batin. “Ada kedalaman dalam cara mereka berdoa,” ujarnya.
Sementara Maria merasakan kenyamanan sejak pertama kali memasuki kuil. “Penjelasannya jelas, suasananya menenangkan,” katanya.
Bagi Wilu, pengalaman ini bahkan terasa lebih emosional. Ia menggambarkan doa yang dilantunkan seperti “masuk ke dalam jiwa”, menghadirkan sensasi merinding sekaligus kagum.
Kesaksian serupa datang dari berbagai peserta. Ridwan dari komunitas ICRP menilai kegiatan ini sebagai ruang penting untuk belajar bukan hanya toleransi, tetapi kasih sayang lintas iman. Raisha, peserta umum, menyebut acara ini “informatif dan seru”, bahkan merekomendasikannya kepada teman-temannya.
Sementara Grace dari PPIM Jakarta berharap kegiatan serupa terus berlanjut karena membuka banyak wawasan baru.
Di tengah segala perbedaan yang hadir, satu benang merah terasa kuat: keinginan untuk saling memahami.
Penyerahan cinderamata dari Generasi Literat diwakili Mila
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata dan foto bersama, momen sederhana yang merekam lebih dari sekadar kebersamaan. Ia menjadi simbol bahwa dialog lintas iman bukan hanya mungkin, tetapi juga perlu terus dirawat.
Di dunia yang kerap dipenuhi prasangka dan konflik, pertemuan seperti ini mengingatkan bahwa perdamaian bisa dimulai dari hal sederhana: datang, mendengar, dan membuka diri untuk saling memahami.
Semangat itulah yang mengantarkan Generasi Literat terus mengupayakan ruang perjumpaan lintas iman, melalui program Hang Out Kebinekaan. “Doakan kami panjang umur, panjang usaha, untuk terus mengajak teman-teman berkenalan dengan keberagaman di Indonesia,” tutup Mila.
Berita lainnya