Dokumentasi oleh Tim Literasi Kesehatan Mental Generasi Literat
Pagi itu, hujan tak datang seperti biasanya. Namun, suasana di Depok tetap terasa teduh.
Selasa, 3 Februari 2026, lantai 3 Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok dipenuhi energi yang berbeda. Bukan sekadar kegiatan belajar-mengajar seperti biasanya, tapi ruang berbeda, yaitu ruang aman bagi puluhan santri untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan belajar satu hal yang sering terlupakan: mencintai diri sendiri.
Melalui program Self Love Training Goes to Pesantren, Yayasan Generasi Literat kembali membawa literasi kesehatan mental ke ruang yang mungkin jarang disentuh diskursus mental health secara terbuka: pesantren. Sebanyak 25 santri dari kelas X hingga XII hadir, duduk rapih, sebagian masih malu-malu, sebagian penasaran, sebagian lagi tampak sudah siap bercerita.
Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Founder sekaligus Direktur Generasi Literat, Mila Muzakkar, bersama Kepala Sekolah Pesantren Cendekia Amanah. Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat: literasi hari ini tidak cukup hanya membaca buku, tetapi juga membaca emosi, memahami diri, dan merawat kesehatan mental.
Simbol kolaborasi pun ditandai dengan pertukaran kenang-kenangan antara Generasi Literat dengan Pesantren. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi tanda bahwa ruang literasi mental health mulai diterima sebagai kebutuhan bersama.
Pemberian kenang-kenangan dari Generasi Literat kepada perwakilan Pesantren Cendekia Amanah, Depok
Masuk ke sesi inti, suasana berubah lebih cair. Mila Muzakkar, yang menjadi Trainer utama, mengawali sesi dengan mengajak santri perkenalan diri: menyebut nama dan hal yang paling membuat mereka bahagia.
Aktivitas sederhana, tetapi efektif membuka ruang aman. Karena bicara kesehatan mental tidak bisa dimulai dari teori saja, harus dari rasa aman terlebih dahulu.
Diskusi tentang kesehatan mental kemudian dibangun melalui brainstorming interaktif. Bukan ceramah satu arah, melainkan dialog. Para santri diajak mengaitkan materi dengan realitas mereka: tekanan akademik, relasi pertemanan, ekspektasi keluarga, hingga kecemasan tentang masa depan.
Namun momen paling hening sekaligus paling kuat hadir ketika peserta diminta menuliskan masalah yang sedang mereka hadapi. Kertas-kertas kecil ditempel di dinding kelas. Sekilas sederhana, tapi sebenarnya penuh keberanian.
Di sana tertulis:
tentang overthinking,
tentang relasi yang tidak sehat,
tentang keluarga yang tidak selalu utuh,
tentang rasa tidak percaya diri,
tentang lelah yang sering dipendam.
Tiba-tiba seisi ruangan terasa lebih jujur. Dari situ, Trainer mengajak santri mengidentifikasi masalah menggunakan “pohon masalah”. Para santri dibagi kelompok, mendiskusikan akar persoalan, dampak yang dirasakan, hingga kemungkinan solusi. Yel-yel kelompok pun dibuat, bukan sekadar fun element, tapi simbol solidaritas: bahwa menghadapi masalah tak harus sendirian.
Salah satu brainstorming santri tentang masalah yang dihadapi sebagai remaja
Setelah istirahat, energi ruangan kembali dinaikkan lewat games ringan bersama co-fasilitator, Alyssa. Tawa kembali pecah. Ini penting, karena proses refleksi emosional juga butuh jeda.
Diskusi kelompok kemudian diperdalam bersama Co-fasilitator lainnya, Mufti. Presentasi tiap kelompok menunjukkan keberanian yang mungkin sebelumnya tidak disadari para peserta sendiri. Ada yang menyampaikan dengan humor, ada yang serius penuh refleksi, bahkan ada yang mulai berani bertanya kritis.
Sesi ini selalu menjadi momen “klik” dalam Self Love Training, saat peserta menyadari bahwa masalah mereka valid, dan ada cara sehat untuk menghadapinya.
Diskusi kelompok didampingi co-fasilitator, Mufti – Relawan Program Self Love Training Generasi Literat
Menjelang penutupan, Mila Muzakkar memberikan penguatan tentang self-love sebagai fondasi kesehatan mental. Ia menegaskan bahwa mencintai diri bukan egois, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap hidup sendiri.
Ia juga menyinggung realitas yang semakin memprihatinkan: meningkatnya kasus kesehatan mental pada anak dan remaja, bahkan hingga kasus bunuh diri yang terjadi pada anak SD di NTT. Pesan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi mengingatkan bahwa kesadaran mental health harus dimulai sejak dini: di rumah, sekolah, komunitas, termasuk pesantren.
Sebagai penutup reflektif, peserta diajak menulis surat cinta untuk diri sendiri. Banyak yang awalnya ragu. Menulis untuk diri sendiri terasa asing. Tapi ketika pena mulai bergerak, suasana berubah hening. Beberapa wajah terlihat serius, beberapa tampak menahan emosi, sebagian tersenyum kecil seolah baru menemukan sesuatu dalam dirinya. Barangkali, untuk pertama kalinya, mereka memberi ruang pada diri sendiri untuk didengar.
Acara ditutup dengan foto bersama dan pembuatan video dokumentasi. Namun yang tertinggal bukan hanya dokumentasi visual, melainkan pengalaman emosional, perspektif baru, dan keberanian kecil untuk lebih ramah pada diri sendiri.
Melalui program ini, Generasi Literat kembali menegaskan bahwa literasi hari ini harus menyentuh manusia secara utuh. Bukan hanya kecerdasan intelektual, atau kecerdasan buatan, tetapi juga kesehatan mental, empati sosial, dan kesadaran diri.
Karena generasi yang kuat bukan hanya generasi yang pintar, tetapi generasi yang mengenal dirinya, mampu mencintai dirinya,
dan akhirnya mampu merawat dunia dengan lebih bijak.
Editor: Mila Muzakkar
Berita lainnya